Aku sekarang sedang berfikir tentang apa yang aku sebut dengan “biji kebahagiaan”. Sudah lama aku menyimpannya. Menyimpan ditempat persembunyian paling dalam. Aku fikir, belum saatnya biji itu bermekaran. Maka dia aku diamkan.
Tiba-tiba seseorang datang menemukan biji kebahagiaan itu. Orang itu, orang yang datang saat matahari mulai terbenam. Orang yang selalu datang saat senja. Tiba tiba, tanpa alasan yang tidak pernah aku tau kenapa, orang itu, yang menemukan biji kebahagiaanku, yang mengeluarkannya dari persembunyiannya, dia menyirami biji kebahagiaanku dengan air, memupuknya, merawatnya, memperhatikannya, memberikannya sinar matahari, memberikan biji kebahagiaan itu sebuah pengharapan, tentang kehidupan, tentang bermekaran. Disirami seperti itu setiap hari, biji kebahagiaan ku pun tumbuh! Dia hampir merekah, siap mekar pada waktunya nanti.
Lalu, pernahkah kalian mendengar tentang pernyataan bahwa di dunia ini, perubahan terjadi begitu cepat?
secepat langit yang digandrungi awan hujan berubah menjadi langit biru cerah, tertiup angin, dan dengan cepatnya awan hujan itu pergi entah kemana. Seperti itu dia berlalu. Secepat itu dia berlalu. Dia, yang tiap senja menyirami biji kebahagiaanku, yang telah memberikan setengah kehidupan kepada biji kebahagiaanku, yang telah menyinari biji itu dengan sinar hangat sang mentari, sekarang dia pergi, sekarang dia lenyap. Tiba-tiba dia menghilang tanpa alasan yang tidak pernah aku ketahui mengapa. Sama tiba-tibannya dan sama tidak tahunya seperti saat pertama dia datang dan memeberikan harapan kehidupan pada biji kebahagiaanku. Mungkin memang benar, perubahan di dunia memang terjadi terlalu cepat.
Nasibmu biji kebahagiaan.
Nasibmu malang,biji kebagiaanku sayang.
Orang itu, yang mengeluarkanmu dari persembunyian, orang yang akan memberimu kehidupan, orang yang menjadikanmu hampir bermekaran, dia menghilang.
Nasibmu mungkin memang hanya sampai setengah merekah.
Aku mencoba memberimu setengah lagi kehidupan, memilih untuk membirakanmu untuk hidup, tidak langsung menyimpanmu ke tempat gelap itu. Berharap kau mekar dengan sempurna. Aku menyiramimu tapi kau masih tampak layu. Aku menjemurmu tapi kau tak berkembang. Aku menaruhmu di tengah hujan deras, kau makin kelihatan mati. Tidak kuasa.
Manusia memang tidak pernah dibiarkan untuk memilih, dan semua makhluk hidup sudah mempunyai garis takdirnya sendiri. Dan mungkin, mungkin, takdirmu hanya hidup setengah mekar. Maka kau, biji kebahagiaanku, biji kebahagiaanku sayang yang setengah mekar, mungkin nasibmu memang hanya sampai setengah bermekaran, dan kau akan kembali mati.
Dengan sisa sisa kehidupanmu, aku akan menghadiahkanmu sebuah tulisan ini. Aku masih tidak tau tentang garis kehidupanmu. Aku akan menyaksikan takdirmu. Aku akan menjadi saksi tentang akhir dari, mungkin, mungkin akhir dari kehidupanmu, sebelum kau, aku sembunyikan lagi ditempat paling gelap di alam semesta ini. Relung hati.
30 hari, akhir dari kehidupanmu. Bukan, bukan, aku tidak bermaksud mentakdirkan itu. Aku hanya memberimu batas. Batas kau berharap tentang senja yang mungkin akan menghampirimu lagi. Jika tidak, kau akan ku sembunyikan seperti sedia kala.
Aku akan menuliskan sisa sisa akir hidupmu tiap senja. Senja kesukaanmu. Senja yang telah memberikanmu setengah dari kehidupan. Waktu terindah dari satu kali putaran bumi.
Biji kebahagian,
hari ini, hari ke-9 kau tak disirami.